Karena fleksibilitasnya itulah, akhirnya cinta sering diartikan salah. Salah satunya adalah pada kasus Cinta Pada Pandangan Pertama. Cinta gak mungkin hadir pada pandangan pertama, yang lebih sering muncul dalam kasus pandangan pertama adalah nafsu, atau sekedar naksir. Cinta butuh proses lebih dalam dan lebih jauh dari sekedar pandangan pertama. Tapi, apakah mungkin cinta hadir pada pegangan pertama? Ini juga masih diragukan kesahihannya. Kalo seseorang jadi lebih sayang sama pacarnya setelah melakukan kontak fisik tertentu, ini belum cinta, bisa jadi ini adalah nafsu yang merubah wujudnya menjadi sesuatu yang lebih lembut, hangat, dan romantis, sehingga orang jadi sering menyalahartikannya sebagai cinta. Karena kalo orang jadi lebih sayang sama pasangannya setelah adanya kontak fisik, ini bisa jadi karena dia menginginkan kontak fisik yang lebih jauh lagi setelah yang pertama. Dan udah bisa dibayangkan apa yang bakalan terjadi setelah kontak fisik itu mencapai puncaknya, dan udah gak tau lagi bagian fisik mana yang belum dikontak, dipastikan perasaan yang semula diartikan sebagai “cinta” itu akan memudar dan hilang seiring dengan perasaan bosan karena udah gak ada bagian tubuh yang bisa dieksplorasi lagi. Kasus inilah yang akhirnya sering diberitakan sebagai kasus “Cinta yang kebablasan”, atau dengan kata lain, saking cintanya trus jadi hamil. Padahal kata-kata yang lebih tepat buat memberitakan kejadian kayak gini adalah “saking nafsunya trus jadi hamil”. So, udah jelas kalo cinta gak pernah salah kan! yang salah itu orangnya!!
karena fleksibilitasnya itu jugalah cinta akhirnya bisa menghinggapi siapa saja terhadap siapapun atau apapun. Well, apapun namanya, semua adalah penilaian orang perorang. Semua berhak menilai segala sesuatunya dengan sudut pandangnya sendiri. Yang jelas, cinta itu gak pernah sombong, atau menipu, atau kasar, tak pernah pamrih, dan tak pernah salah.
*tulisan ini gw bikin buat jadi Viewpoint di Majalah Ouch!. udah mengalami pengeditan asal-asalan sebelum diposting. gw posting disini karena setelah dirasa-rasa, udah lama juga gw gak menikmati pekerjaan gw sebagai penulis. setelah nulis artikel ini gw sadar, ternyata buat menghasilkan tulisan yang agak lumayan, dibutuhkan tiga organ tubuh untuk bekerja sama, otak, mata, dan hati.
